Di antara bilangan yang sangat akrab dalam keilmuan Islam adalah angka tujuh. Angka tujuh memiliki keistimewaan selain angka satu. Keistimewaan lebih ini ada pada kisah-kisah Alquran, hadis, dan lainnya yang terkait dengan ibadah umat Islam. Peneliti Alquran mengamati ada sebuah sistem integral dalam Alquran yang terkait dengan angka tujuh. Angka tujuh merupakan angka yang bersaksi atas keesan Allah SWT.

Shalat malam sangat tinggi kedudukannya di mata Allah SWT. Rasulullah SAW tak pernah melewatkan waktu malamnya untuk bermunajat sebagai ungkapan rasa syukur atas keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Tahmid, selain merupakan ungkapan pujian terhadap Allah SWT, ia juga merupakan doa. Rasulullah SAW bersabda, “Doa yang paling utama adalah tahmid (mengucap Alhamdulillah).” (HR Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah).

Meskipun Allah Maha Pengampun dan Penerima tobat, manusia hendaknya tidak menyepelekan kesalahan terhadap-Nya. Seperti disinggung Nabi pada hadis di atas, kita jangan pernah memandang kecil suatu kesalahan, tetapi pandanglah kepada siapa kita berbuat kesalahan.

Kehadiran Islam bertujuan untuk melahirkan manusia berkeadaban. Tentu peradaban hanya akan lahir dari orang-orang yang beradab, yakni bertauhid kepada Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, memuliakan ulama, orang tua dan menabur benih-benih kebajikan.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang majemuk ini tentu aneka warna tingkah polah manusia di dalamnya, yang kadang menyenang kan, kadang pula menyesakkan dada dan amat menyakitkan, karena tindakan zalim antarindividu.

Faktanya, memang melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh.

Di beberapa tempat dan negara lain, Muslimah melaksanakan shalat cukup dengan busana gamis longgar, kerudung (jilbab), dan kaus kaki. Lantas, bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam hal ini?

Merenung sesaat, ujar Rasulullah, lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan dua jenis makhluk hidup, yaitu manusia dan jin.