Bijak Berbuat Baik Walaupun Perbuatan Baik Tidak Pernah Sia-Sia

Posted on 166 views

Alkisah, ada seorang dermawan yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan. Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan ia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya. Pada suatu kesempatan ia bertemu dengan seseorang maka langsung saja ia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas.
Mendengar kabar ini si dermawan hanya berkata, “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada seorang penjahat.”

Di lain waktu, Dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga sudah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kepada seorang koruptor.
Mendapat kabar ini, si dermawan hanya berkata, “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor.”

Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera ia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang yang kaya raya.
Mendengar hal ini si dermawan kembali berkata, “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya.”

Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan adalah orang yang “ceroboh”, dengan asal dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya. Padhal jika ia lebih teliti maka niat baiknya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.

Tapi ternyata, suatu niat yang baik pasti akan berakhir dengan baik pula, pun demikian dengan “kecerobohan” si dermawan. Uang yang diberikannya kepada penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertaubat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan untuk modal usaha.

Sementara si koruptor, uang cuma-cuma yang diterimanya ternyata membuka hati nuraninya yang selama ini tertutupi oleh keserakahan. Dia menyadari bahwa di dunia ini bukanlah berapa banyak yang bisa kita dapatkan tapi seberapa banyak yang bisa kita berikan untuk membantu. Kemudian dia bertekad mengubah dirinya menjadi pejabat yang baik, jujur dan amanah.

Dan ternyata pemberian si dermawan kepada orang kaya membuat dirinya merasa ditelanjangi, karena selama ini dia adalah seorang yang kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan oang lain, baginya segala sesuatu harus ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhanaannya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.

Tidak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap suatu kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukan soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banya yang bisa kita berikan.

Namun, apakah dewasa ini kita bisa melakukan kebaikan secara serampangan? Lalu apa arti dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk berpikir? Jadilah seorang dermawan yang cerdas!
Hendaknya harta yang kita punya diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan mengutamakan orang terdekat kita.

Wallahu’alam

Baca juga: Bijak Menyikapi Perbedaan

Sumber: http://blog.unnes.ac.id/ramadhani/2015/12/01/perbuatan-baik/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *